Tentang Batik Indonesia

All posts in the Tentang Batik Indonesia category

KATALOG BATIK PRINTING FOR SALE

Published October 29, 2012 by umzaragallery


Koleksi Batik Printing Motif Kupu Kupu
Kode : BPMB 101 I
Bahan : Katun Primisima
Ukuran : 220 x 110 Cm
Harga : IDR 75.000

Koleksi Batik Printing Cantik
Kode : BPMB 103 B
Bahan : Katun Primisima.
Ukuran : 220 X 110 cm
Harga : Rp 75.000

BATIK PRINTING MOTIF MEGA MENDUNG
Kode : BPMB 105 A
Ukuran : 210 x 110 cm
Bahan : Katun Primisima.
Harga : Rp.80.000

 

BATIK PRINTING MOTIF MEGA MENDUNG
Kode : BPMB 105 D
Ukuran : 210 x 110 cm
Bahan : Katun Primisima.
Harga : Rp.70.000

Advertisements

Kain Sasirangan Kalimantan Selatan

Published May 17, 2011 by umzaragallery

Berkas:Sasirangan E.JPG

1. Asal Usul

Kain Sasirangan merupakan salah satu hasil kebudayaan masyarakat Kalimantan Selatan yang diwariskan secara turun temurun (http://www.pintunet.com). Kain ini oleh masyarakat setempat digunakan untuk membuat pakaian adat, yaitu pakaian yang digunakan orang-orang Banjar baik oleh kalangan rakyat biasa maupun keturunan para bangsawan untuk melaksanakan upacara-upacara adat (http://rubiyah.com).

Read the rest of this entry →

Kain Lurik

Published May 15, 2011 by umzaragallery

Sejarah menunjukkan, kain lurik sudah ada sejak kurang lebih 3.000 tahun silam. Beberapa peninggalan sejarah memperlihatkan bahwa masyarakat tradisional membuat lurik dengan cara menenun sebagaimana yang terlihat pada situs sejarah di Gilimanuk, Melolo, Sumba Timur, Gunung Wingko, Yogyakarta dan lain sebagainya. Di sana ditemukan cap tenunan, alat pemintal, dan bahan tenun lurik.

Kain lurik juga dikenakan pada area terakota asal Triwulan di Jawa Timur yang dibuat di abad 15 Masehi, sehingga menunjukkan bahwa lurik sudah dipakai pada masa itu. Dari berbagai bukti sejarah, diketahui bahwa daerah penyebaran lurik adalah Yogyakarta, Solo dan Tuban.

Kata “lurik” berasal dari bahasa Jawa kuno, yakni “lorek” yang berarti lajur, garis, atau belang. “Lurk” dapat pula berarti corak. Pada dasarnya lurik memiliki tiga motif dasar, yaitu motif lajuran dengan corak garis-garis panjang searah helai kain, motif pakan malang yang memiliki garis-garis searah lebar kain, dan motif cacahan dengan corak-corak kecil. Walaupun terlihat sederhana, sesungguhnya dibutuhkan keterampilan dan kejelian dalam memadukan warna serta susunan garis agar menghasilkan kain lurik yang serasi, indah dan mengagumkan.

Sarat filosofi
Lurik juga sarat makna dan tidak dapat dipisahkan dari kepercayaan sehingga keberadaannya selalu mengiringi berbagai upacara adat. Filosofi dan makna lurik tercermin pada motif dan warnanya. Ada corak yang dianggap sakral dan menjadi sumber nasihat, petunjuk, dan harapan. Contohnya kain lurik gedog madu, yang digunakan dalam upacara mitoni, atau siraman. Ada juga kain lurik motif lasem yang digunakan sebagai perlengkapan pengantin pada zaman dahulu.

Pada masa lalu, kain lurik ditenun menggunakan benang katun yang dipintal dengan tangan. Benang tersebut ditenun menjadi selembar kain dengan alat yang disebut gedog dan dibuat dalam dua warna saja, hitam dan putih dengan corak garis atau kotak. Akibatnya, lurik terkesan tegas dan maskulin.

Saat ini banyak kain lurik diproduksi menggunakan alat tenun bukan mesin, atau biasa disebut ATBM. Alat yang lebih modern ini dapat menghasilkan kain lebih lebar. Warna dan motif yang diciptakan juga beraneka ragam sehingga menjadikan penggunaan kain lurik tidak terbatas pada kepentingan adat saja. Kesan maskulin pun bisa diminimalkan dengan permainan warna.

Kini, kain lurik banyak dimanfaatkan untuk ornamen fashion dan interior, seperti dompet, tas, sandal, topi, sarung bantal, taplak meja, dan sebagainya. Selain itu, sekarang juga terdapat pakaian-pakaian perempuan yang terbuat dari bahan lurik sehingga mempercantik penampilan kaum hawa. Pantas jika lurik menjadi salah satu kain unggulan Nusantara. (Sekar/Ira Nursita)

Sumber: Majalah Sekar

PROSES PEMBUATAN BATIK

Published April 13, 2011 by umzaragallery

PROSES PEMBUATAN KAIN BATIK

TAHAP DEMI TAHAP PEMBUATAN KAIN BATIK

NGANJI

Proses Nganji – from Handbook of Indonesian Batik

Sebelum dicap, biasanya mori dicuci terlebih dahulu dengan air hingga kanji aslinya hilang dan bersih, kemudian di kanji lagi. Motif batik harus dilapisi dengan kanji dengan ketebalan tertentu, jika terlalu tebal nantinya malam kurang baik melekatnya dan jika terlalu tipis maka akibatnya malam akan “mblobor” yang nantinya akan sulit dihilangkan.

Mori dengan kualitas tertinggi [Primisima] tidak perlu dikanji lagi, karena ketebalan kanjinya sudah memenuhi syarat.

Read the rest of this entry →

Batik Jambi…

Published February 28, 2011 by umzaragallery
I. Pertumbuhan Seni Batik Tradisional Jambi
Batik adalah hasil karya bangsa Indonesia yang tercipta dari perpaduan antara seni dan teknologi leluhur bangsa Indonesia. Produk batik dapat berkembang hingga sampai pada suatu tingkatan yang membanggakan baik desain maupun prosesnya. Begitu pula dengan batik yang ada tumbuh dan berkembang di daerah Jambi.
Pada zaman dahulu batik Jambi hanya dipakai sebagai pakaian adat bagi kaum bangsawan/raja Melayu Jambi. Hal ini berawal pada tahun 1875, Haji Muhibat beserta keluarga datang dari Jawa Tengah untuk menetap di Jambi dan memperkenalkan pengolahan batik. Motif batik yang diterapkan pada waktu itu berupa motif – motif ragam hias seperti terlihat pada ukiran rumah adat Jambi dan pada pakaian pengantin, motif ini masih dalam jumlah yang terbatas. Penggunaan motif batik Jambi, pada dasarnya sejak dahulu tidak dikaitkan dengan pembagian kasta menurut adat, namun sebagai produk yang masih eksklusif pemakaiannya dan masih terbatas di lingkungan istana.
Read the rest of this entry →